Jakarta (18/5)-Universitas Bakrie mengadakan workshop Guru BK dengan tema “Peran Sosial Media Dalam Peningkatan Intensitas konseling & Workshop Sistematika Penilaian Kurikulum 2013” yang menghadirkan pembicara Dr. M. Husin, M.Pd, M.Si selaku Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Jakarta dan Ibu Suharyanti, S.Kom, MM. selaku Pakar Bidang Psikologi Komunikasi dari Universitas Bakrie.

Sambutan dari Kepala Bidang SMA Dr. Fathurin Zen., S.H., M.Si mengatakan Class room berbasis google untuk mengawasi siswa dan seluruh aktivitasnya. Tidak mungkin staf pengajar menutup mata terhadap perkembangan teknologi. Guru BK tidak hanya sekedar guru tapi guru plus-plus, dituntut untuk peka terhadap anak-anak murid, untuk mengatasi kenakalan remaja, seperti tawuran dan bullying. Universitas Bakrie melakukan survey singkat terhadap Guru-guru di beberapa SMA/SMK/MAN bersamaan dengan saat melakukan kegiatan Promosi mengenai Sistematika Penilaian Kurikulum 2013. Hasil survey menyimpulkan bahwa masih adanya simpang siur sehubungan dengan sistematika penilaian tersebut, sehingga masih ada perbedaan pemahaman antar Sekolah. Hal ini dapat berdampak pada nilai rapor yang diperoleh tiap Siswa/I, terutama pada sekolah yang belum menjalankan Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 (K-13) adalah kurikulum yang berlaku dalam Sistem Pendidikan Indonesia. Kurikulum ini diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum-2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun. Pada tahun ajaran 2013/2014, Kurikulum 2013 diimpelementasikan secara terbatas pada sekolah perintis. Sedangkan pada tahun 2014, Kurikulum 2013 sudah diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V sedangkan untuk SMP Kelas VII dan VIII dan SMA Kelas X dan XI. Jumlah sekolah yang menjadi sekolah perintis adalah sebanyak 6.326 sekolah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, nomor 60 tahun 2014 tanggal 11 Desember 2014, pelaksanaan Kurikulum 2013 dihentikan dan sekolah-sekolah untuk sementara kembali menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, kecuali bagi satuan pendidikan dasar dan menengah yang sudah melaksanakannya selama 3 (tiga) semester, satuan pendidikan usia dini, dan satuan pendidikan khusus. Penghentian tersebut bersifat sementara, paling lama sampai tahun pelajaran 2019/2020. Sebuah survey yang dilakukan SurveyOne terhadap orang tua dan siswa SMA mengenai kegiatan sehari-hari mereka menunjukkan bahwa sebagian besar dari responden meluangkan waktunya untuk mengakses internet. Untuk kategori responden anak SMA, semuanya merasakan tiada hari tanpa online. Mereka semua mengaku kalau akses internet itu kebanyakan dipergunakan untuk mengakses Media Sosial seperti Instagram, Path, Facebook dan chatting melalui aplikasi Line. Internet adalah media yang secara konsisten terus tumbuh signifikan dari tahun ke tahun. Data yang dirilis oleh The Nielsen Company Indonesia dalam sebuah acara yang bertajuk Nielsen Marketing Media Presentation 2009, menunjukkan bahwa pada tahun 2009 penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 17 persen dari penduduk Indonesia, atau meningkat dua kali lipat disbanding tahun 2005 lalu. Di samping jumlah yang terus meningkat, frekuensi akses internet juga semakin sering. Tercatat sekitar 30 persen pengguna internet yang berusia 15-39 tahun menghabiskan waktunya lebih dari dua jam untuk mengakses internet. Lebih lanjut, presentasi tersebut juga menunjukkan bahwa saat ini terdapat 7 persen dari pengguna internet yang mengakses internet melalui ponsel naik 4 persen dari tahun lalu. Sejak ada internet, perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi media jauh berubah. Demikian juga dengan peserta didik yang ada di lingkungan sekolah, informasi yang datangnya dari internet menjadi jauh lebih cepat tersampaikan dibandingkan dengan media lainnya. Anak didik jauh lebih unggul dalam pemanfaatan teknologi informasi yang merupakan generasi C dibandingkan dengan para Guru BK yang rata-rata masih masuk dalam kategori X (lahir di tahun 70 dan 80 bahkan masuk di generasi baby boomer). Untuk itu penerapan pemahaman Guru BK atas pemanfaatan teknologi informasi untuk lebih meningkatkan dalam pelayanan bimbingan dan konseling sangat penting agar tercipta kesinambungan yang sinergis antara guru dan para siswa. Agar guru BK dapat melaksanakan tugas sesuai dengan kemajuan jaman, serta kolaborasi antara Wakil Kurikulum dan Kepala Sekolah, Kami pengurus MGBK Jakarta Selatan bekerjasama dengan Universitas Bakrie bermaksud mengadakan workshop dengan tema “Seminar Peran Sosial Media Dalam Peningkatan Intensitas Konseling & Workshop Sistematika Penilaian Kurikulum 2013”. Adapun tujuan dari Universitas Bakrie sendiri selain merupakan “CSR” yang dilaksanakan untuk membantu meningkatkan kompetensi Guru BK, juga memperkenalkan Universitas Bakrie kepada para Guru BK. Di sekolah Menengah Atas (SMA) terutama kelas 3, ketika siswa mengalami kebingungan mengenai pilihan program studi maupun perguruan tinggi mana yang harus dipilih, maka tempat bertanya adalah para Guru BK. Untuk itu dalam meningkatkan kesadaran tentang perguruan tinggi pilihan Universitas Bakrie bekerja sama dengan MGBK untuk memperkenalkan institusi pendidikan ini langsung kepada Guru BK yang nantinya akan banyak memberikan konsultasi kepada para anak didik di institusi masing-masing. Harapannya para Guru BK ini akan lebih banyak memberikan informasi kepada para anak didiknya mengenai keberadaan Universitas Bakrie. Tujuan kegiatan ini meningkatkan profesionalisme Guru BK dalam melaksanakan tugasnya sebagai bagian dari “CSR” Universitas Bakrie kepada masyarakat, khususnya pada guru di Jabodetabek dan menjalin hubungan baik Antara Universitas Bakrie dengan SMA-SMA di Jabodetabek.