Twitter memang fenomenal. Tak hanya sebagai media sosial dengan jumlah pengikut yang luar biasa, Twitter juga mampu menjadi sumber informasi baru tercepat. Setidaknya hingga saat ini, ruang redaksi dari berbagai media massa masih “melirik” Twitter dalam mendapatkan informasi sekaligus meraih khalayak sebanyak-banyaknya. Tapi, tunggu dulu, Twitter ternyata juga berpeluang menjadi lawan alias pesaing bagi redaksi.

 Inilah yang tergambar dalam paparan riset berjudul Peluang Sosial Media dalam Ruang Redaksi (Studi pada 4 Media Massa di Jakarta dalam Memanfaatkan Twitter untuk Pemberitaan) di Universitas Bakrie, awal September lalu (4/9). Universitas Bakrie kerap mengadakan seminar hasil riset internal setiap bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk menyebarluaskan penelitian dosen Universitas Bakrie.

Riset yang diteliti oleh Aryo Subarkah Eddyono berpijak pada temuan riset yang dilakukan oleh Dewan Pers mengenai penggunaan media sosial oleh jurnalis di tahun 2012 dan riset yang ia lakukan sendiri mengenai pola kerja redaksi dalam memanfaatkan Twitter dalam kerja jurnalistik pada tahun yang sama.

“Riset-riset sebelumnya belum menjawab bagaimana peluang Twitter di masa yang akan datang serta strategi apa saja yang dilakukan ruang redaksi untuk memanfaatkan sekaligus mengimbangi Twitter,” ujarnya.

Data dikumpulkan dengan mewancarai empat petinggi media massa bergenre berita yang mewakili empat jenis media (tvOne, Kompas.com, Tempodan Radio Sindo Trijaya). Tak hanya itu, observasi lapangan dan pengumpulan data sekunder juga dilakukan untuk memperkuat hasil temuan.

Hasil temuan riset tersebut adalah Twitter masih akan berpeluang menjadi sumber berita baru sekaligus media promosi-interaksi baru dan berpotensi menjadi pesaing bagi media massa.

 

Sumber Informasi Baru – Media Promosi

Meski berkapasitas 140 karakter dan didukung dengan jumlah pengguna yang terus meningkat membuat para pihak seperti lembaga dan orang penting tergiur memanfaatkannya. Inilah yang dimanfaatkan media dalam menjaring beragam informasi. Tak satu-dua peristiwa hangat bermula dari informasi yang beredar di Twitter.

“Selain itu, ketika mereka (media massa) memiliki berita, Twitter menjadi etalase untuk melakukan promosi yang berujung pada peningkatan jumlah khalayak pembaca, pendengar, ataupun penonton dengan menempelkan link pada tweet, lalu di retweet  berulang-ulang dengan pola waktu mengikuti kebiasaan kahalayak,” lanjutnya.

Strategi yang dilakukan redaksi untuk memanfaatkan situasi ini adalah dengan membentuk tim khusus untuk memantau dinamika informasi yang beredar di Twitter, mewajibkan kru memiliki akun twitter dan mem-follow akun Twitter orang terkemuka, menggunakan software analytic untuk mendapatkan tren isu, dan berkreasi tanpa batas dalam menyiapkan program. “Koran Tempo, misalnya. Mereka memindahkan kultweet dari orang terkemuka ke halaman korannya yang dimuat dalam kolom khusus. Tujuannya adalah menyinergikan koran cetak dengan keberadaan Twitter,” tambah Aryo.

 

Pesaing Redaksi

Disisi lain, Twitter juga berpotensi menjadi pesaing bagi media massa. Ini akan terjadi jika Twitter menunjukkan rupa sebagai media masa depan dimana bisa mengakomodir teks, foto, dan video hanya dengan 140 karakter yang ia miliki. “Menariknya adalah, menaklukkan 140 karakter untuk memuat informasi utuh saja masih sulit, apalagi ditambah jika Twitter lebih memperkaya kontennya,” terang Aryo.  

Jika ini benar-benar terjadi, lanjut Aryo, maka dikhawatirkan jumlah khalayak media massa akan menurun drastis berpindah ke Twitter. Kekhawatiran ini ditambah adanya tren khalayak yang enggan  menggunakan media mainstream, melainkan media sosial seperti Twitter, dalam mendapatkan informasi. Bahkan, khalayak pun enggan meng-klik link yang disediakan dalam sebuah tweet resmi redaksi berita.

Strategi yang dilakukan redaksi untuk mengantisipasi hal ini adalah dengan menghadirkan berita yang terjaga kualitasnya. Karena, di tengah keriuhan dan kebingungan informasi, khalayak akan berlabuh pada media-media yang integritasnya teruji untuk mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya.

“Namun, yang patut dicermati adalah ketika media sosial mencoba menduplikasi atau memasuki ranah media mainstream. Inilah yang berpotensi menghajar eksistensi media mainstream,” tutup Aryo mengakhiri presentasi hasil risetnya.