Bangkok, 19 September 2025. Para ahli teknologi pangan dan gizi berbagai negara Asia berkumpul di Bangkok pada hari Jumat, 19 September 2025, untuk menghadiri seminar internasional dengan tema Functional Ingredients of Asia: Where Tradition Meets Science. Acara yang berlangsung di QSNCC, Bangkok dari pukul 09.00-16.30. Sebagai bagian dari acara tahunan Food Ingredients Asia, seminar ini secara khusus menyoroti aspek pangan fungsional dan nutrasetikal yang berperan sebagai jembatan vital yang memadukan praktik tradisional dan inovasi ilmiah untuk memetakan masa depan industri pangan fungsional dan nutrasetikal di kawasan ASEAN dan Asia pada Umumnya.
Perlunya integrasi pengetahuan tradisional dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern dalam pengembangan bahan pangan fungsional dan nutrasetikal yang berkontribusi terhadap kesehatan dan pencegahan penyakit. Seminar ini menyoroti potensi besar bahan-bahan fungsional Asia, yang banyak berasal dari sumber daya lokal dan tradisional, serta bagaimana inovasi penelitian dan teknologi dapat mengoptimalkan manfaatnya bagi kesehatan masyarakat. Pesatnya pertumbuhan industri pangan fungsional di kawasan ASEAN dan Asia, didorong oleh meningkatnya kesadaran akan hidup sehat dan tingginya prevalensi penyakit degeneratif, menjadikan tema ini sangat relevan dan aktual.
Salah satu pembicara dalam seminar tersebut adalah Prof. Ardiansyah, Ph.D, Dosen Prodi Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Bakrie, Jakarta, Indonesia. Dalam makalahnya yang berjudul Exploring Functional Foods and Nutraceuticals: Research and Development in Indonesia, Prof. Ardiansyah membahas secara mendalam perkembangan terkini, peluang, tantangan, dan masa depan penelitian dan pengembangan (R&D) pangan fungsional dan nutraseutikal di Indonesia.
Prof. Ardiansyah memulai paparannya dengan menekankan kekayaan biodiversitas Indonesia yang merupakan fondasi utama bagi pengembangan pangan fungsional dan nutrasetikal di Indonesia. Beliau menyoroti berbagai bahan pangan lokal yang telah lama menjadi bagian dari tradisi dan budaya Indonesia dan memiliki potensi fungsional yang luar biasa, seperti: tempe, tauco, tape ketan, tape ubi kayu (di Jawa Barat disebut dengan peuyeum), brem, growol, bekasam, wadi, dan dadih atau dangke. Produk-produk tersebut merupakan kekayaan Indonesia yang sanat Potensi dikembangkan sebagai pangan fungsional. Diperlukan kajian mendalam untuk mengetahui kandungan bioaktif dan manfaatnya lebih luar untuk kesehatan masyarakat.
Prof Ardi, juga menyampaikan hasil penelitian-nya tentang bekatul dan bekatul fermentasi yang menjadi topik riset beliau dua selama dekade terakhir. Menonjolkan manfaat kesehatan dari bekatul dan bekatul fermentasi, dapat menjadi pemacu dan pemicu cukup tinggi, untuk bisa menjadi pilihan konsumen. Sebuah pemetaan dapat dibuat untuk memberikan informasi mengenai manfaat bekatul dari berbagai jenis beras dengan target kesehatan yang spesifik. Positioning dalam strategi pengenalan bekatul sebagai pangan fungsional dan nutrasetikal akan lebih jelas dan membantu konsumen dalam memilih jenis bekatul untuk dikonsumsi sesuai kebutuhannya,’’kata Prof Ardy diakhir orasinya
Meski menghadapi tantangan, Prof. Ardiansyah menyampaikan optimisme yang besar. Pada seminar ini, beliau menyerukan pentingnya kolaborasi erat antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk secara aktif melakukan kajian, penelitian, dan hilirasi produk-produk lokal khas Indonesia, seperti menyederhanakan proses regulasi tanpa mengorbankan aspek keamanan, serta mendorong investasi dalam penelitian berbasis evidence-based.
Seminar ini juga menampilkan pembicara dari berbagai negara yang membagikan insights serupa dari kawasan mereka seperti pembicara dari Thailand, Tiongkok, Malaysia, dan Kanada. Topik tentang kebijakan dan strategi untuk membawa produk pangan fungsional dan nutrasetikal dari tradisi ke pasar global juga disampaikan pada seminar
Seminar Functional Ingredients of Asia: Where Tradition Meets Science berhasil menjadi platform bertukar ilmu dan membangun jejaring yang berharga. Keberadaan para ilmuwan seperti Prof. Ardiansyah menunjukkan bahwa Indonesia aktif dan berkontribusi dalam peta penelitian pangan fungsional dan nutrasetikal global. Diharapkan dari seminar ini lahir lebih banyak kolaborasi internasional yang dapat mempercepat transformasi kekayaan alam dan tradisi kuliner di Kawasan ASEAN dan Asia menjadi produk pangan fungsional inovatif dan dapat diakses oleh masyarakat global, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.